Syaqila, Anak Tukang Cuci yang Punya Mimpi Besar untuk Bisa Bersekolah Hingga ke Mesir
Namanya Syaqila Fradana (14 tahun), anak pertama dari dua bersaudara. Lahir dan besar di Selatpanjang, Kepulauan Meranti—daerah pesisir yang harus ditempuh dengan menyeberang laut. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Hidup mereka sederhana, tapi siapa sangka, dari rumah kecil di tepi laut itu tumbuh seorang anak perempuan dengan cita-cita besar: ingin belajar agama dan bahasa Arab sampai ke Mesir.
Sejak kecil, Syaqila punya rasa cinta yang kuat pada bahasa Arab. Suatu hari, dia bahkan sampai menangis minta sama ayahnya supaya bisa ikut les bahasa Arab. Tapi di kampungnya, jangankan les bahasa Arab, tempat belajar tambahan pun jarang ada. Sejak itu, Syaqila punya mimpi besar: suatu hari nanti, kalau Allah beri kesempatan belajar sampai mahir, dia ingin buka tempat les bahasa Arab sendiri, supaya anak-anak kampung juga bisa belajar, seperti les bahasa Inggris.

(Syaqila Bercita-cita bisa bersekolah hingga ke Mesir)
Pernah satu kali dia bertanya, “Yah, Qur’an itu kan pakai bahasa Arab ya, tapi kok banyak orang Islam yang baca Qur’an nggak ngerti artinya?”
Sejak kelas 5 SD, Syaqila sudah punya satu impian: mondok di Pesantren Khoiru Ummah di Pekanbaru. Setiap kali pulang kampung ke rumah neneknya di daerah Bangkinang, dia pasti melewati pondok itu. Kadang dia minta berhenti sebentar, cuma buat lihat-lihat. Dan dia selalu bilang, “Kalau Allah izinkan, aku pengen mondok di sini ya, Yah.”
Alhamdulillah, tahun lalu Syaqila ikut seleksi santri baru di Pondok Pesantren Khoiru Ummah, dan lulus. Sekarang dia sudah hampir setahun belajar di pondok impiannya. Tapi di balik rasa syukur itu, ada perjuangan yang tidak ringan. Biaya masuk dan administrasi pondok masih ada yang belum lunas. Dan pihak pondok menyampaikan bahwa kalau tunggakan tidak segera diselesaikan, Syaqila tidak bisa ikut ujian kenaikan kelas.
Sebagai orang tua, tentu mereka terus berusaha. Tapi dengan penghasilan ibunya yang hanya dari mencuci pakaian, dan ayah yang bekerja serabutan, biaya sebesar itu terasa berat. Mereka diminta datang ke pondok untuk menjelaskan soal tunggakan, tapi dalam hati bingung harus jawab apa kalau ditanya: “Kapan bisa lunas?”
Padahal, Syaqila bukan santri biasa. Dia sudah hafal 8 juz Al-Qur’an, pernah menjuarai lomba MTQ cabang tahfiz, dan sering diminta membaca Al-Qur’an di acara-acara besar seperti Isra Mi’raj dan Maulid Nabi. Saat libur kemarin, dia bahkan ikut ayahnya ke pedalaman buat membina saudara-saudara mualaf—mempraktikkan langsung ilmu yang ia pelajari di pondok.
Untuk membantu wujudkan cita-cita mulian Syaqila, BWA mengajak kaum Muslim berdonasi melalui program Indonesia Belajar (IB) guna memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan para donatur dengan curahan rahmat berlipat ganda. Aamiin.[]
Nilai Donasi yang Dibutuhkan:
Rp.55.000.000
Partner Lapang:
Endang
#BWA #InovasiWakaf #IB #IndonesiaBelajar
Belum ada donatur untuk program ini.